JL. Kyai Haji Ahmad Fadlil No.1, Dewasari, Kec. Cijeungjing,
Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kotak Pos 02 Kode Pos 46271
Tlp/Fax: (0265) 774376. WA 0812-2247-4442

Universitas Islam Darussalam (UID) kembali menegaskan perannya dalam pengembangan pemikiran dan praksis pendidikan Islam melalui peluncuran buku Pendidikan Islam: Membentuk Muslim Moderat, Mukmin Demokrat, Muhsin Diplomat pada bulan November 2025. Buku ini ditulis secara kolaboratif oleh para dosen Universitas Islam Darussalam dan dieditori oleh Prof. Dr. Husni, M.Pd., sebagai respons akademik atas tantangan pendidikan Islam di tengah dinamika sosial, politik, dan budaya kontemporer.
Judul buku tersebut merefleksikan motto Pondok Pesantren Darussalam, yakni Muslim Moderat, Mukmin Demokrat, Muhsin Diplomat, yang selama ini menjadi landasan nilai sekaligus sumber inspirasi bagi seluruh civitas akademika Universitas Islam Darussalam. Motto ini tidak hanya diposisikan sebagai slogan normatif, tetapi diolah secara konseptual dan operasional sebagai arah pembentukan karakter peserta didik dalam pendidikan Islam.
Buku ini disusun dalam lima bagian utama yang saling terhubung. Bagian pertama mengulas konsep dasar pendidikan Islam, dimulai dengan pendahuluan oleh Husni dan dilanjutkan dengan pembahasan tentang perumusan ulang tujuan pendidikan Islam serta pendidikan akhlak mulia. Bagian kedua menitikberatkan pada pilar karakter Muslim Moderat (wasathiyyah), dengan pembahasan mengenai moderasi beragama, penangkalan radikalisme, toleransi, pluralisme, serta literasi media digital untuk menyikapi hoaks dan ujaran kebencian.
Bagian ketiga mengelaborasi pilar karakter Mukmin Demokrat (syuraiyyah), yang mencakup penguatan nilai musyawarah, pendidikan kewarganegaraan dalam perspektif Islam, serta kepemimpinan yang mengintegrasikan spiritualitas, nilai demokratis, dan pengambilan keputusan yang bijak. Selanjutnya, bagian keempat membahas pilar karakter Muhsin Diplomat (ihsaniyyah), dengan fokus pada etika komunikasi, diplomasi, fiqh prioritas dan realitas, serta seni berdebat secara ilmiah dan santun.
Pada bagian terakhir, buku ini menghadirkan berbagai model implementasi dan evaluasi pendidikan Islam, mulai dari pembacaan kitab kuning dengan pendekatan modern, peran guru sebagai fasilitator pembelajaran, penerapan project-based learning untuk kebaikan sosial, hingga evaluasi holistik dalam mengukur keberhasilan pembentukan karakter moderat, demokratis, dan diplomatis.
Dalam kata pengantarnya, Editor Buku Prof. Dr. Husni, M.Pd. menyampaikan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan akademik yang nyata sekaligus dari optimisme yang tidak ingin padam. Ia menegaskan bahwa para penulis merupakan dosen UID yang setiap hari berhadapan dengan realitas kelas yang heterogen, kebijakan pendidikan yang dinamis, serta tantangan sosial yang kerap bergerak lebih cepat daripada silabus perkuliahan. Oleh karena itu, tiga profil karakter yang diusung dalam buku ini diposisikan sebagai kompas pendidikan, bukan sekadar jargon.
Menurut Prof. Husni, moderasi beragama berfungsi menjaga kewarasan nalar dan kedewasaan iman, demokrasi menyalurkan iman ke ruang partisipasi dan keadilan sosial, sementara ihsan memberi fondasi etika dalam komunikasi, negosiasi, dan penyelesaian konflik. Ketiganya, tegasnya, bukan pilihan yang saling meniadakan, melainkan saling menguatkan.

Buku ini juga menekankan pergeseran penting dari rumusan tujuan pendidikan yang terlalu normatif menuju definisi operasional yang dapat dididik, dilatih, dan dievaluasi. Kemampuan berdialog lintas pandangan, kebiasaan memeriksa kebenaran informasi, keterampilan memediasi perbedaan, serta keberanian mengambil keputusan kolektif yang adil dipandang sebagai indikator konkret dari iman yang bekerja di ruang sosial.
Peluncuran buku ini disambut sebagai kontribusi strategis Universitas Islam Darussalam dalam pengembangan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman, tanpa kehilangan akar nilai keislaman dan kepesantrenan. Melalui karya ini, UID berharap dapat memperkaya khazanah keilmuan, menjadi rujukan bagi pendidik dan pengelola lembaga pendidikan, serta membuka ruang dialog yang lebih luas tentang relasi antara iman, kewargaan, dan peradaban yang damai.





