UID Selenggarakan Acara Orasi Ilmiah tentang AI dan Pendidikan Islam: Transformasi Pembelajaran dan Urgensi Etika di Era Digital

Universitas Islam Darussalam (UID) menyelenggarakan Orasi Ilmiah bertema “Kecerdasan Buatan dan Pendidikan Islam: Transformasi Pembelajaran dan Urgensi Etika di Era Digital” pada Sabtu, 27 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Wisuda Program Sarjana dan Program Pascasarjana Universitas Islam Darussalam Tahun 2025, bertempat di Gedung Nadwatul Ummah, Pondok Pesantren Darussalam.

Orasi ilmiah tersebut menghadirkan Prof. Dr. H. Husni Thoyyar, M.Pd., Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam Universitas Islam Darussalam, sebagai narasumber utama. Acara ini dihadiri oleh sekitar 345 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan Universitas Islam Darussalam, serta para tamu undangan lainnya.

Dalam orasinya, Prof. Husni Thoyyar menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini telah mencapai tingkat yang sangat canggih. Hampir seluruh teknologi modern, menurutnya, bekerja lebih cerdas dan lebih efisien karena ditopang oleh sistem AI. Hal ini terlihat jelas dalam berbagai sektor strategis, mulai dari platform digital yang menggunakan algoritma rekomendasi, teknologi keuangan dengan sistem fraud detection, hingga teknologi kesehatan yang mampu membaca citra medis seperti rontgen dan CT-scan secara presisi.

Lebih lanjut, Prof. Husni juga menguraikan pemanfaatan AI dalam bidang militer, seperti analisis citra satelit, pertahanan siber, dan pengoperasian drone pengintai berbasis AI. Sementara dalam konteks pendidikan, AI telah hadir melalui berbagai bentuk, antara lain asisten pembelajaran berbasis AI, analisis proses belajar, serta sistem umpan balik yang semakin personal dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik.

Namun demikian, di balik potensi besar tersebut, Prof. Husni menekankan adanya tantangan etis yang tidak boleh diabaikan, khususnya dalam dunia pendidikan Islam. Menurutnya, AI bukan sekadar alat teknologis, melainkan fenomena historis yang membawa implikasi serius terhadap kejujuran akademik, proses pembelajaran, otoritas keilmuan dosen, serta pembentukan karakter peserta didik. Ia mengingatkan bahwa tanggung jawab etis tidak pernah dapat didelegasikan kepada mesin, sehingga literasi etika AI harus berjalan seiring dengan literasi digital.

Orasi ilmiah ini juga menyoroti pentingnya sikap kritis dan seimbang dalam menyikapi AI. Menolak AI secara total dipandang sebagai ilusi, sementara menerima AI tanpa kritik justru berpotensi menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, dituntut untuk mampu merumuskan kerangka etis dalam pemanfaatan AI agar teknologi tersebut benar-benar berfungsi sebagai sarana pemberdayaan manusia, bukan sebaliknya.

Melalui penyelenggaraan orasi ilmiah ini, Universitas Islam Darussalam menegaskan komitmennya dalam merespons perkembangan teknologi mutakhir secara reflektif, kritis, dan berlandaskan nilai-nilai etika Islam. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan sivitas akademika serta menjadi pijakan awal dalam merumuskan kebijakan dan praktik pendidikan yang adaptif terhadap era digital, tanpa kehilangan ruh keilmuan dan moralitas akademik.